web 2.0

Senin, 05 April 2010

Cerita Konyol dari Veteran

Seorang tetangga di bumisegoro yang kebetulan veteran pejuang bercerita tentang pengalaman konyolnya di jaman revolusi. Saat bercerita, kesan konyol dan rasa syukur sangat terasa dalam ekspresi wajah dan tubuh sepuh-nya.

Dalam perjalanan kembali dari tugas kurir menuju ke markas, tanpa sengaja dia melihat sekelompok kecil pasukan patroli Belanda sedang beristirahat. Saat itu, mereka dalam posisi tidak siaga (off position, senjata di mana, orangnya di mana) karena sedang menikmati degan (kelapa, diambil air dan daging buahnya) sambil menikmati semilirnya angin di suatu siang yang panas.

Segera ia mengendap-endap mendekati mereka dan mencari posisi yang pas untuk melancarkan serangan kilat. Setelah dirasa posisi dan timingnya pas, bermodal sebuah senapan di tangan ia melompat mendekati kawanan pasukan itu. Sambil berteriak (untuk mengobarkan keberanian diri) dia menembakkan senapannya. Awalnya dia senang melihat rekasi pasukan itu yang terlihat panik karena tidak menyangka mendapat serangan dari kaum republik di siang bolong dan mereka sedang dalam kondisi off-position. Ternyata perasaan senangnya tidak berlangsung lama begitu ia menyadari senapannya sama sekali tidak berfungsi (mejen). Segera sesudah sadar ia langsung lari sipat kuping. Sayup-sayup ia masih sempat mendengar cemooh tawa pasukan Belanda disusul tembakan dar der dor dari mereka beberapa waktu kemudian. barangkali mereka menertawakan kekonyolan yang antara lain berupa kenyataan bahwa penyerang yang ternyata cuma seorang (tidak seperti kekhawatiran mereka), udah gitu senapannya tidak berfungsi dan orangnya juga kabur. Dalam usahanya untuk menyelamatkan diri, saat melintasi parit dia bersembunyi cukup lama di dalam gorong-gorong (lorong parit di bawah badan jalan) sampai situasi dinilainya aman dan terkendali.

Di akhir cerita dia ungkapkan rasa syukur, bahwa saat itu ia masih bisa selamat (pengalaman paling mendebarkan dalam hidupnya). Hanya saja ada rasa prihatin yang mendera melihat nasib rekan-rekannya sesama pejuang yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Dia bilang, bahwa dia beruntung memiliki pekerjaan dan penghidupan yang meski pas-pasan tapi masih terhitung layak. Dia menyebut beberapa nama yang diakuinya dulu berjuang secara aktif melawan penjajah atas dasar keihlasan melalui wadah Hisbullah, Sabililah dll tetapi gagal dalam perjuangan mencari nafkah bagi diri dan keluarganya. Bahkan ada tetangga yang dulu berjuang bersama laskar Hizbullah tetapi justru di kemudian hari dipaksa “angon bebek” (menggembala itik) bertahun-tahun di Nusa Kambangan. Maksudnya dipenjara karena dituduh terlibat DI/TII, padahal dia tahu persis yang bersangkutan tidak ikut terlibat.

Dia bilang, ada masa dimana kekacauan menjadikan nasib orang bagai roller coaster. Contoh lain yang lebih dramatis adalah masa Gestapu, saat tidak sedikit orang dengan gampangnya (secara serampangan) dituduh, diseret dan dieksekusi tanpa bukti-bukti yang jelas. Saat kacau seperti itu sedikit sentimen pribadi bisa berujung pada melayangnya nyawa-nyawa manusia dengan mudahnya. Seorang Kyai yang anti komunis bisa dituduh PKI dan dieksekusi. Padahal bisa jadi karena salah pengertian, misalnya PKI diartikan Partai Kyai Indonesia. Kisah Kyai dan PKI ini dituturkan oleh seorang Ustad di Bogor sebagai fakta yang terjadi di daerah Cianjur. Revolusi memakan anaknya sendiri? entahlah….

Made : http://bumisegoro.wordpress.com

Inilah cerita yang saya dapat dari pe'blogger wordpress.
Terimakasih untuk copasnya.
Semoga bermanfaat.
INDONESIA MERDEKA...
blogger-emoticon.blogspot.comblogger-emoticon.blogspot.comblogger-emoticon.blogspot.comblogger-emoticon.blogspot.comblogger-emoticon.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut